Kadang seringkali kita melihat berbagai tingkah laku para pengendara saat dijalanan yang sedang terkena razia. Ada yang takut dan langsung berbalik arah bahkan ada juga yang nekad menerobos barisan Polantas yang sedang bertugas. Namun berbeda dengan yang dilakukan remaja satu ini. Dia mampu melewati barisan Polantas yang menghadangnya berkat kecerdasannya berpikir. Berikut kisahnya.
Alkisah. Suatu ketika santri ini (sebut saja namanya Karto) berniat menjemput sang kyai yang sedang mengisi pengajian di kampung sebelah. Namun hari itu dia mengalami nasib sial lantaran dihalangi oleh razia seorang polisi yang galak.
Dengan memasang wajah garang, Polisi itu menghampirinya dan berkata, “Kamu saya tilang!"
Karto bingung karena tidak tahu apa kesalahannya. Dia pun berkilah, “Ini bukan motor saya, Pak, tapi punya Pak Kyai.”
“Kalau begitu kita ‘damai’. Berapa uang yang kamu miliki?” tanya polisi yang galak itu.
“Saya nggak mungkin bawa dompet, Pak. Kan saya pakai sarung. Bagaimana kalau diganti dengan imbalan rokok, Pak?” ucap santri ini.
“Bolehlah. Nggak masalah.” jawab sang polisi.
Karto lalu menuju sebuah warung kecil yang tidak jauh dari lokasi razia untuk membeli tiga bungkus rokok. Kepada ibu warung Karto berkata bahwa yang membayar rokoknya adalah pak polisi yang ada di seberang jalan.
Penjual rokok tersebut tidak percaya dan bertanya, “Beneran?”
Karto lalu berteriak sambil melambaikan tiga bungkus rokok itu kepada polisi yang merazianya dan bertanya, “Benar yang ini, Pak?”
Pak polisi mengacungkan jempolnya sebagai tanda kalau dia setuju. Pemilik warung akhirnya baru percaya dengan ucapan Karto.
Karto segera menyerahkan tiga bungkus rokok kepada polisi. Lantaran tak mau taktiknya ketahuan ia pun langsung bergegas melanjutkan perjalanannya menjemput sang kyai dengan bernafas lega.
“Akhirnya urusan beres juga. Maaf ya Pak Polisi.!” gumamnya sambil tertawa dalam hati.
Tapi tentu saja satu urusan lagi yang harus dibereskan, yaitu urusan pak polisi dengan pemilik warung yang harus membayar harga rokok yang sudah diambil Karto.
Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.
Sumber: majalahannur.com dengan analisis pribadi