Dalam konteks ceramah Evie Effendie yang mengatakan nabi Muhammad pernah sesat sebelum diberi petunjuk oleh Allah SWT berdasarkan surat adh- Dhuha sama sekali tidak benar.
Memang kata “Dholla” dalam bahasa arab bisa bermakna “sesat”, tetapi dalam konteks surat Adh-Dhuha tidak bisa diartikan menurut makna asalnya.
Sebab dalam ayat lain, seperti dalam Q.S an-Najm (53) disebutkan sebagai berikut:
ما ضل صاحبكم وما غوى
“Sahabatmu itu (yakni nabi Muhammad SAW) tidak sesat dan tidak keliru”
Dengan demikian, jika lafadz “Dholla” dalam surat adh-Dhuha tersebut diartikan “sesat” maka bertentangan dengan ayat dalam surat an-Najm tadi.
Oleh karenanya, lafadz “dolla” dalam ayat tersebut harus dipahami dalam arti lain, bukan kesesatan dalam arti tidak mendapat petunjuk atau kafir. Sebab para nabi terpelihara (ma’sum) dari segala macam dosa, baik sebelum maupun sesudah kemabian.
Untuk mengetahui maksud dari kata “dholla” tersebut, kita harus merujuk pada pendapat para sahabat atau ulama ahli tafsir.
Ibn Abbas r.a., salah seorang Sahabat Nabi saw. yang dikenal sebagai bapaknya para mufasir, mengatakan bahwa kesesatan yang dimaksud dalam surah adh-Dhuha adalah keberadaan Nabi di Mekkah sewaktu kecil sepeninggal ayahnya, lalu Allah mengembalikannya ke pangkuan kakeknya, Abdul Muttalib.
Dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Kementerian Agama RI tahun 2004 ayat di atas diterjemahkan demikian: Dan Dia mendapatimu sebagai orang bingung lalu Dia memberi petunjuk.
Terdapat catatan kaki pada ayat itu yang menjelaskan kata “bingung”, bahwa yang dimaksud dengan “bingung” adalah kebingungan untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal. Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad saw.
Ada juga yang memahami kesesatan di situ dalam arti ketidaktahuan akan syariat dan ajaran agama.
Maksudnya, suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah mengalami kebingungan karena tidak menemukan atau mengetahui jalan yang benar. Beliau melihat kaumnya menyembah berhala, namun beliau yakin bahwa penyembahan tersebut adalah kesesatan.
Ajaran orang-orang Yahudi, dan Nasrani, juga tidak memuaskan beliau sehingga beliau berada dalam kebingungan dan karenanya beliau kemudian menyendiri di Gua Hira guna berusaha menemukan jalan keluar bagi kebingungan yang melanda pikiran beliau.
Ketika itulah datang hidayah Allah yang dibawa oleh Jibril a.s. Itulah dhalâl (kebingungan) yang beliau alami, dan demikianlah Allah menunjuki beliau.
Pemahaman ini didasarkan pada makna ayat lain yang mengatakan: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al-Qur’an) dengan perintah Kami.
Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (Q.S. asy-Syûrâ [42]: 52).
Ungkapan Evie adalah bentuk dari penghinaan kepada Rasulullah Saw yang kita pahami sebagai manusia yang ma’sum
عِصْـمَـتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلائِكَهْ : وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الـمَـلائِكَهْ
Nabi dan Rasul adalah ma’sum sebagaimana Malaikah. Wajib bagi seorang Muslim berkayakinan bahwa seluruh Nabi dan Rasul itu wajib ma’shum sebagaimana kema’shuman itu wajib bagi seluruh malaikat ‘alayhimus shalatu was salam. Allah menjaga mereka dari dosa serta hal-hal yang mustahil bagi haq mereka. Lafadz “wa fadlaluw al-Malaaikah” (Kitab Aqidatul Awam)
Sumber: baldatuna.com